Jakarta, CNN Indonesia

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Endra Zulpan menyebut massa yang menggelar unjuk rasa soal kenaikan harga BBM pada Jumat (16/9) tertib.

“Massa aksi unjuk rasa yang di Bundaran Patung Kuda maupun Gedung DPR/MPR telah menyampaikan pendapatnya dengan tertib, tidak anarkis dan mematuhi peraturan perundang-undangan yang berlaku,” ujar Zulpan dalam keterangannya, Jumat (16/9).

Ia menjelaskan pihaknya memantau ada sejumlah elemen massa yang melakukan demo di lima titik, yakni Kementerian LHK, Balaikota DKI Jakarta, Kantor BPN/Bappenas, Gedung DPR/MPR, dan Bundaran Patung Kuda.

Diberitakan sebelumnya, aparat kembali memasang penghalang berlapis di dekat Istana Presiden untuk menyekat pergerakan aksi massa demo menolak kenaikan BBM di sekitar Patung Arjuna Wiwaha atau Patung Kuda, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Jumat (16/9).

Berdasarkan pantauan CNNIndonesia.com di lokasi, polisi mulai memasak beton separator sekitar pukul 14.00 WIB.

Penghalang itu sekaligus menutup lalu lintas Jalan Medan Merdeka Barat yang menjadi akses menuju kompleks Istana Kepresidenan di Jalan Medan Merdeka Utara.

Kawat berduri hingga ‘tembok raksasa’ alias water barrier berukuran besar juga tampak berada di sekitar area demo meski belum terpasang.

Tak hanya itu, mobil taktis dan anggota polisi juga telah bersiap untuk pengawalan demo hari ini.

Kapolres Metro Jakarta Pusat Kombes Komarudin menjelaskan pemasangan penghalang jenis baru itu merupakan strategi baru polisi untuk mengantisipasi kericuhan.

“Ini termasuk salah satu upaya strategi yang kami siapkan untuk meminimalisir potensi-potensi kerusakan fasilitas umum yang terjadi,” kata Komarudin di kawasan Patung Kuda.

“Kami terus mengevaluasi setiap hari. Dipimpin bapak Kapolda, kita evaluasi konsep pengamanan untuk meminimalisir kerusakan yang tentunya akan merugikan orang banyak,” lanjut dia.

Alat baru itu kemudian mulai diuji coba di Jalan Medan Merdeka Barat hari ini. Meski tidak ada massa berskala besar yang berunjuk rasa kali ini, Komarudin mengatakan pemasangan beton baru tersebut tetap dilakukan untuk mengestimasi waktu yang dibutuhkan dalam persiapan.

“Kita uji coba karena kita juga harus memperhitungkan berapa lama waktu pemasangan dan pembengkakan karena ini juga akan berdampak pada aktivitas lainnya,” tuturnya.

(pop/sfr)



Artikel ini bersumber dari www.cnnindonesia.com.