media-nasional.comHampir segala sesuatu yang dilakukan orang tua dapat berdampak besar bagi anak-anak untuk jangka waktu yang panjang, termasuk kalimat yang sering diucapkan baik secara langsung atau hanya sekadar di sekitar anak.

Melalui bukunya yang bertajuk “13 Things Mentally Strong Parents Don’t Do,” Amy Morin menuliskan bagaimana cara menghentikan kebiasaan buruk orang tua yang dapat menghambat perkembangan kekuatan mental anak, salah satunya adalah terkait kalimat yang sering kali diucapkan.

Dilansir dari CNBC Internasional, Morin menyatakan meskipun beberapa kalimat yang biasa diucapkan tampak tidak berbahaya, ternyata dapat berpotensi buruk pada anak, yaitu membuat menyebabkan mereka tumbuh dengan mentalitas korban atau percaya bahwa mereka tidak bisa berhasil.

Lantas, apa saja kalimat ‘beracun’ yang harus dihindari orang tua?

Jika Anda menginginkan sesuatu yang sangat mahal, jangan bersikeras mengatakan bahwa barang tersebut tidak akan pernah bisa dibeli karena keuangan yang terbatas. Sebaliknya, tunjukkan kepada anak bahwa Anda bisa mengelola keuangan.

Menurut Morin, dibandingkan kalimat “Ayah dan Bunda enggak bakal bisa beli rumah besar untuk kita,” lebih baik Anda berkata “Ayah dan Bunda mau membeli rumah besar untuk kita suatu hari nanti, tapi enggak bisa sekarang karena uangnya belum cukup. Ayah dan Bunda mau mengembangkan keterampilan di tempat kerja dulu biar bisa dapat kenaikan gaji dan menabung,”.

Bila Anda menunjukkan kalimat kebiasaan mengelola keuangan yang cerdas, secara tidak langsung anak akan tumbuh dengan memahami jika mereka menginginkan sesuatu, mereka harus menabung dan menyusun skala prioritasnya.

Penting bagi orang tua untuk tetap tenang dan menahan rasa ingin menyalahkan anak-anak atas emosi yang dirasakan. Alih-alih bertindak emosi karena tindakan anak, lebih baik Anda mengatakan, “Ayah dan Bunda enggak suka kalau kamu melakukan itu,” dan jelaskan alasannya. Anak-anak perlu memahami bagaimana perilaku mereka dapat memengaruhi orang lain. Ini akan mendorong mereka untuk lebih menyadari perasaan orang bukan hanya perasaan mereka sendiri.

Bila tidak sengaja memarahi anak, segera minta maaf dan berjanji untuk tidak mengulanginya lagi dengan berkata “Ayah dan Bunda minta maaf karena hilang kesabaran. Lain kali, kami akan mengambil waktu sejenak untuk menenangkan diri,”. Dengan demikian, anak tidak akan merasa trauma dan merasa wajar menyalahkan orang lain ketika emosi.

Morin mengatakan, orang tua harus berhati-hati bila ingin curhat satu sama lain setelah mengalami hari yang melelahkan di tempat kerja, terlebih bila di depan anak. Sebab, meskipun terlihat tidak berbahaya karena tidak berbicara langsung dengan anak, perlu diingat bahwa mereka dapat menangkap isi percakapan yang ada.

Faktanya, penelitian menemukan bahwa sikap orang tua tentang kehidupan memiliki pengaruh besar dalam menentukan keberhasilan anak-anak, terutama dalam hal prestasi akademik. Selain itu, mengeluh tentang pekerjaan di sekitar anak secara tidak langsung mengajarkan bahwa bekerja itu tidak menyenangkan. Akibatnya, mereka mungkin percaya bahwa dewasa adalah kesengsaraan total.

Cara yang lebih baik untuk menangani hal tersebut adalah dengan menjelaskan bahwa Anda memiliki pilihan karier. Selain itu, bicarakan hal-hal yang Anda lakukan untuk membuat kehidupan kerja Anda lebih baik.

Jika anak mengalami kegagalan, hindari mengatakan “semuanya akan baik-baik saja.”

Sebaliknya, orang tua wajib memberi pemahaman kepada anak bahwa terkadang hidup tidak selalu berjalan sesuai dengan harapan. Kalimat seperti itu bisa membantu mereka mengenal arti perjuangan sehingga si kecil mau bekerja keras untuk mempersiapkan masa depan. Dengan kata lain, kegagalan memang perlu dirasakan semua orang.

Daripada memberi tahu anak bahwa selalu ada akhir yang bahagia, ajari anak bahwa mereka cukup kuat untuk menangani kegagalan yang tak terhindarkan. Tetap hibur si kecil dengan pelukan dan akui perasaan mereka dengan mengatakan, “Ayah dan Bunda tahu kamu benar-benar ingin berhasil hari ini, tetapi tenang saja. Banyak peluang lainnya yang bisa kamu raih, kok,”

Setelah anak merasa tenang, dorong mereka untuk terus berlatih dan mencoba lagi. Dengan melatih dan membimbing anak melalui masa-masa sulit, mereka akan lebih siap untuk menangani hal-hal yang tidak berjalan dengan baik di masa depan.