Momen Aremania Mohon Polisi Tak Tembak Gas Air Mata di Kanjuruhan

Jakarta, CNN Indonesia

Cuplikan video demi video yang menunjukkan detik-detik saat Tragedi Kanjuruhan di Malang, Jawa Timur, pada Sabtu (1/10) malam lalu terus beredar.

Kekinian viral video yang menunjukkan seorang suporter tim bola Arema FC atau Aremania bernama Yohanes yang memohon kepada polisi agar tak melontarkan gas air mata ke arah tribun penonton di Stadion Kanjuruhan, Malang. Aremania itu beralasan banyak pula anak kecil dan perempuan di tribun tersebut.

Namun, permintaan Yohanes justru dibalas dengan bentakan polisi. Ia juga didesak keluar dari lapangan karena dianggap membuat rusuh stadion.

“Pak jangan pak… gas air mata pak, banyak anak kecil pak,” kata dia kepada seorang polisi di lapangan dalam rekaman video yang didapatkan CNNIndonesia.com.

Lalu muncul satu polisi lagi yang lalu membentaknya dan menyebutnya sudah membuat rusuh, “Keluar, kamu keluar!”

“Iya saya keluar, saya keluar,” timpal Yohannes.

Selain dibentak, Yohanes juga mengaku mendapat pukulan dari aparat usai menyampaikan permohonan tersebut.

Seorang Aremania lainnya yakni Eko Prianto juga mengaku mendapat penolakan dari aparat ketika meminta tolong untuk membantu mengevakuasi korban yang bergeletakan akibat berdesak-desakan. Eko mengatakan dirinya justru ingin dipukul oleh aparat berbaju loreng ketika meminta bantuan tersebut.

“Saya lari ke aparat keamanan, petugas dari TNI-Polri. Pertama saya minta tolong ke kepolisian. Mereka tidak mau, takut terjadi apa-apa,” kata Eko kepada CNNIndonesia.com di Malang, Senin (3/10).

“Ke aparat yang pakai baju loreng, juga ditolak, saya malah mau dipukul sama beliau sambil bilang ‘temenku yo onok sing kenek cok’,” tambah Eko.

Ia berujar malam itu di gate 13 dan 14, dirinya menyaksikan banyak korban yang umumnya perempuan dan anak-anak tergeletak. Posisi korban, kata Eko, saling bertumpuk.

Eko pun berinisiatif membuka paksa gerbang gate 13 dengan segala cara. Namun upaya itu tak berhasil lantaran pintu hanya terbuka sebagian.

“Di gate 13, di situlah titik semacam kuburan massal teman-teman saya, Aremania. Aku enggak kuat, Mas,” ujar Eko memberikan kesaksian.

Tragedi ini bermula ketika sejumlah suporter Arema FC turun ke lapangan karena kecewa timnya dikalahkan Persebaya dengan skor 2-3. Aparat kemudian mengamankan dan mengawal para pemain dan ofisial kembali ke ruang ganti.

Pada waktu bersamaan, aparat mencoba untuk membubarkan massa di lapangan, salah satunya menggunakan gas air mata. Berdasarkan kesaksian-kesaksian–juga video yang beredar–gas air mata pun dilontarkan ke tribun.

Para suporter yang berada di tribun lantas panik, sehingga berdesak-desakan demi keluar dari stadion. Di tengah kepanikan itu, banyak penonton mengalami sesak napas, terjatuh, dan terinjak-injak hingga tewas.

[Gambas:Video CNN]

Menko Polhukam Mahfud MD membentuk Tim Gabungan Independen Pencari Fakta (TGIPF) untuk mengusut tragedi kerusuhan di Stadion Kanjuruhan.

Dalam kasus ini, Kapolres Malang AKBP Ferli Hidayat serta sembilan komandan Brimob Polri dicopot dan dinonaktifkan. Sebanyak 28 anggota polisi juga diduga melanggar etik buntut kasus tersebut.

Sejauh ini, pemerintah melalui Menko PMK Muhadjir mencatat korban Tragedi Kanjuruhan mencapai 448 orang per Minggu (2/10). Dari 448 orang tersebut, 125 orang di antaranya meninggal dunia, 302 orang mengalami luka ringan, dan 21 orang menderita luka berat.

(kid)

[Gambas:Video CNN]






Artikel ini bersumber dari www.cnnindonesia.com.