Jakarta, CNN Indonesia

Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta mengungkapkan 64 rukun warga (RW) di Jakarta masuk dalam kategori risiko tinggi rawan kebakaran.

Kepala Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkarmat) DKI Jakarta Satriadi Gunawan mengatakan angka tersebut diketahui lewat sejumlah kajian yang dilakukan Pemprov DKI dengan Disaster Risk Reduction Center Universitas Indonesia (DRRC UI).

“Di sini kita sudah lakukan kajian dan hasilnya ada 64 RW yang sangat berisiko tinggi rawan kebakaran,” kata Satriadi di Balai Kota Jakarta, Kamis (15/9).

Sementara itu, menurut Satriadi ada sekitar 400 RW di Jakarta yang masuk kategori sedang dan menengah rawan kebakaran. Kendati demikian, Satriadi tidak merinci secara khusus di mana saja RW-RW rawan kebakaran tersebut.

Satriadi menjelaskan untuk menentukan status RW rawan kebakaran atau tidak setiap RW harus harus ditentukan lewat sejumlah variabel. Misalnya, ketersediaan pos pemadam kebakaran, dan sistem keselamatan kebakaran lingkungan (SKKL).

Kemudian, soal ketersediaan relawan kebakaran, ketersediaan sarana dan prasarana penanggulangan kebakaran, kondisi kepadatan penduduk, kondisi bangunan, hingga aktivitas ekonomi yang dilakukan di kawasan tersebut.

Sementara, dari hasil kajian DRRC UI didapatkan rata-rata nilai risiko kebakaran di Jakarta adalah 48 persen dengan kategori risiko kebakaran sedang.

Jika dibagi per wilayah, Jakarta Timur memiliki persentase tertinggi, yakni 51 persen dengan kategori kebakaran sedang. Kemudian, Jakarta Pusat, Jakarta Selatan, dan Kepulauan Seribu Utara masing-masing memiliki persentase 49 persen dengan kategori kebakaran sedang.

Berikutnya, Jakarta Barat memiliki persentase 48 persen dengan kategori kebakaran sedang, Jakarta Utara memiliki persentase 44 persen dengan kategori kebakaran sedang, dan Kepulauan Seribu Selatan memiliki persentase 38 persen dengan kategori kebakaran ringan.

Dari hasil penelitian juga disimpulkan bahwa keseluruhan wilayah memiliki kondisi hidran yang buruk atau tidak tersedianya hidran di wilayah tersebut. Kepadatan penduduk juga merupakan salah satu komponen yang memengaruhi risiko kebakaran di seluruh wilayah DKI Jakarta.

Kajian DRRC menunjukkan kepadatan penduduk yang meningkat setiap tahunnya sejalan dengan meningkatnya jumlah pertumbuhan bangunan menyebabkan konsentrasi penghuni dan bangunan menjadi tidak seimbang.

Data penyebab kebakaran menunjukkan bahwa penyebab kebakaran adalah aktivitas manusia yang menjadi penyebab pendukung dalam meningkatkan risiko terjadinya kebakaran.

330 Kejadian Kebakaran di Jakarta Sepanjang Januari-April

Sementara itu, Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria mengatakan kasus kejadian kebakaran di Jakarta cukup tinggi. Dari periode Januari hingga April 2022, tercatat ada 330 kebakaran di Jakarta.

“Di DKI setidaknya sejak Januari sampai dengan April 2022 sudah ada 330 kebakaran di Jakarta,” kata Riza.

Riza mengatakan bahwa kompor gas dan korsleting listrik masih jadi penyebab utama maraknya kebakaran di permukiman padat penduduk di Jakarta.

Oleh sebab itu, ia meminta agar warga ke depan lebih berhati-hati untuk mencegah kejadian kebakaran.

“Kami minta seluruh warga untuk waspada, supaya hati-hati dan jangan sembarangan lagi membuang puntung rokok maupun kebocoran gas, atau juga colokan listrik potensi konseling kabel kabel yang rawan,” pungkasnya.

(dmi/sfr)

[Gambas:Video CNN]



Artikel ini bersumber dari www.cnnindonesia.com.